USWATUN HASANAH
Uswatun Hasanah adalah sebuah konsep moralitas yang ditawarkan oleh Islam. Sebelum Islam hadir di Makkah, pola perilaku pemimpin dan masyarakat saat
itu adalah militeristik dan kesukuan. Kemudian Islam hadir membawa pola
interaksi baru yang mengedepankan moralitas dan contoh teladan yang
baik.
Islam
adalah agama yang mengedepankan kekuatan moralitas. Sehingga, kekuatan
keteladanan seorang pemimpin menjadi hal yang utama dari pada kekuatan
politik. Dalam konsep ini, idealnya, seorang pemimpin diikuti karena
kekuatan moralnya, bukan karena kekuatan politiknya.
Menurut Prof. Dr. Said Aqil Siradj, dalam bukunya Tasawuf Sebagai Kritik Sosial, Uswatun Hasanah adalah gerakan moral yang bersifat soft-Power, yaitu menjunjung tinggi keteladanan, penegakan hak asasi manusia dan ahklak mulia.
Inilah misi terbesar Nabi Saw, sebagaimana ditegaskan dalam hadis Nabi
SAW “Tidaklah aku diutus kecuali hanya untuk menyempurnakan akhlak yang
luhur”.
Dalam
posisinya sebagai agama yang menjunjung tinggi moralitas, Al-qur’an
telah menjelaskan “Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu Uswatun Hasanah
(suri teladan) yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap
(rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut
Allah. (QS 33 :21). Ayat ini menyatakan, Nabi Muhammad sebagai seorang
pemimpin harus dijadikan suri teladan karena kepribadian, ucapan dan
tingkah lakunya, bukan karena kekuatan bala tentaranya.
Suatu
hari, Nabi Muhammad SAW pernah berdiri dari tempat duduknya, saat
jenazah non muslim diangkat melintas di hadapannya. Sikap ini adalah
penghormatan seorang pemimpin sebagai bentuk komitmen terhadap
moralitas, meskipun kepada non muslim yang sudah meninggal
Dalam
kitab Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi menulis sebuah Hadis dari Anas,
R.A., ia berkata :”Saya belum pernah memegang sutera, baik yang tebal
maupun tipis, yang lebih halus dari tangan rasulullah Saw., dan saya
belum pernah mencium bau seharum bau Rasulullah Saw. Saya pernah menjadi
pelayan Rasulullah Saw. Selama puluhan tahun, beliau tidak pernah
mengatakan “hus” kepada saya, atau menegur dengan ucapan “kenapa kamu
berbuat seperti itu,” terhadap apa yang saya kerjakan, dan beliau juga
tidak pernah menegur dengan ucapan “kenapa kamu tidak pernah berbuat
demikian,” terhadap apa yang tidak saya kerjakan”.(HR. Bukhari dan
Muslim)
Komitmen
moralitas Nabi Saw juga selalu tampak dari kehidupan sehari-harinya,
beliau selalu tersenyum, mengasihi yang lemah, menjunjung hak asasi dan
menegakkan keadilan. Seorang sahabat, Abdullah bin Harits, pernah
menceritakan tentang Rasulullah SAW, "Tidak pernah aku melihat seseorang
yang lebih banyak tersenyum daripada Rasulullah SAW." (HR Tirmidzi)
Ayat, Hadis dan Cerita di atas memberikan resep kepada setiap pemimpin untuk menggunakan soft-power “moralitas”. Konsepsi ini patut dijadikan pijakan oleh setiap pemimpin. Sehingga, muncul pola interaksi yang santun antara pemimpin dan yang dipimpin.
Dengan pendekatan Uswatun Hasanah dan
kekuatan moralitas, pemimpin dituntut untuk selalu menjadi teladan yang
baik bagi rakyat dan lingkungan sekitarnya. Sehingga melahirkan sikap
bijaksana, pembela yang lemah, serta mengerti saat yang tepat untuk akomodatif dan saat yang tepat untuk defensif dari kritikan rakyat.
Wallahu 'alam bishsawab
Wallahu 'alam bishsawab


0 comments:
Post a Comment